
Surabaya - Kondom tak hanya alat pengaman seksual. Namun siapa sangka juga bisa dimanfaatkan sebagai alat pembantu pekerjaan seorang wartawan ketika meliput bencana, seperti letusan Gunung Merapi.
Pengalaman itu diungkap oleh Trisnadi Marjan, kontributor kantor berita Amerika Associated Press (AP). Di dalam Diskusi Journalist Insting dengan tema 'MENGEJAR WEDHUS GEMBEL' yang diselenggarakan oleh Himpunan Penggemar Fotografi (Himmarfi) Stikosa AWS bekerja sama Forum Progresif (FOR PRO) AWS di kampusnya, Nginden Intan Timur Surabaya, Kamis (9/12/2010).
"Dengan kondom saya bisa menentukan posisi saya berada itu aman atau tidak. Kondom saya tiup, lalu saya ikat di atas pohon, dari situ ketahuan ke mana arah angin. Kadang angin atas dan bawah berbeda, makanya saya pasang dua kondom," terang Trisnadi Marjan.
Lebih lanjut Trisnadi mengungkapkan dengan kondom terebut ia berani memutuskan untuk tetap berada dalam posisinya dan mengabadikan setiap kejadian yang berlangsung dihadapannya. Menurutnya, seorang jurnalis harus peka terhadap ruang dan waktu. Juga harus cepat mempelajari kondisi lingkungan atau memetakan keadaan. Secara psikologis harus siap berada di medan apapun. Terlebih lagi dalam peliputan bencana.
Lebih lanjut Trisnadi menyebutkan spesifik untuk peliputan bencana, kondisi manusiawi seorang fotografer, terlebih pemula akan mengalami shooc. Hal ini wajar, mengingat suasana didaerah bencana umumnya mengaduk-aduk suasana batin. Namun, kondisi ini harus dikuasai secepatnya dan tersebut ia lakukan untuk bisa memanjat tower tinggi yang licin.
Pada kondisi bencana, mood seorang jurnalis foto hanya berumur tujuh hari. Selanjutnya seorang fotografer akan merasakan jenuh. Selama tujuh hari tersebut obyek yang ditangkap seorang fotografer monoton. Untuk itu seorang jurnalis harus mampu memunculkan instingnya atau ide-ide segarnya.
"Kita kadang terpancing ikut panik atau lainnya, itu justru bisa membuat jurnalis kehilangan banyak momentum. Padahal tugas jurnalis adalah mengabadikan setiap kejadian dan mengabarkan pada masyarakat secara luas. Setiap bencana itu ada pembagian tugas, mulai dapur umum, SAR memberi makan pengungsi,” lanjutnya.
Dalam diskusi tersebut ditampilkan 30-an foto slide, diantaranya suasana perkampungan setelah diserang awan panas atau wedhus gembel, mayat manusia dan hewan, suasana evakuasi oleh anggota Kopassus serta lainnya.
"Untuk menampilkan suasana perkampungan yang hancur, saya harus memutuskan untuk menyeberangi sungai dengan jembatan yang rapuh akibat diterjang wedhus gembel. Di situlah keberanian kita dalam memtuskan sesuatu diuji," terangnya.
Diskusi tersebut diikuti 80 pecinta fotografi se-Surabaya, diantaranya Airlangga Photografi Society (APS), Airlangga Broadcast Education (ABE), Aktifitas Fotografi Unesa (AFO), EXPHOSE (UPN), dan peserta perorangan.
"Seri diskusi Journalist Insting merupakan format baru dimana peserta mendapat bekal pengalaman, mengimajinasikan medan liputan. Jadi nggak melulu pengetahuan teknis fotografi. Karena meskipun kita hapal teknis secara baik, namun jika tak paham medan, skill tersebut bisa hilang dilapangan karena grogi, shock, atau bingung menempatkan posisi," terang Budi Irawan, Ketua Pelaksana Seri Diskusi Journalis Insting.
Menurut pria kribo yang tergabung dalam Himmarfi tersebut, disksui yang bekerja sama dengan Forum Progresif (FOR PRO) AWS, kumpulan alumni Stikosa AWS, itu mampu memberikan trik dan wacana baru bagi fotografer pemula yang nantinya akan hunting di lokasi bencana.
"Diskusi semacam ini akan kami gelar secara berseri untuk menambah wawasan bagi mahasiswa pada umumnya. Terutama yang sedang menempuh studi di Stikosa AWS. Kami memiliki stok alumni di banyak media, juga praktisi kehumasan dan periklanan. Mereka berkomitmen untuk memajukan dunia komunikasi secara luas,” terang M Zurqoni, Koordinator For Pro AWS.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar